Jumat, 04 November 2011 - 11:17:15 WIBCU Laboratorium
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Berita - Dibaca: 95 kali
Pada tahun 1985 berlangsung kursus dasar yang diprakarsai oleh Delsos (sekarang PSE) Keuskupan Agung Pontianak yang bekerjasama dengan Badan Koordinasi Koperasi Kredit Indonesia (BK3I), kemudian lahirlah Credit Union Khatulistiwa Bakti (CUKB).
Sebagai percontohan, CUKB memiliki tujuan mengembangkan kesejahteraan para anggota dan kemajuan lingkungan kerja dalam rangka mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila, menciptakan sumber kredit bagi para anggota dengan bunga yang relatif murah, dan mengembangkan sikap hidup hemat dan penggunaan uang dengan cara bijaksana dan terencana bagi para anggotanya.
Sampai sekarang sebutan CU Laboratorium bagi CUKB masih melekat. Julukan inilah yang membuat CUKB menjadi tempat kunjungan dan belajar bagi para calon atau pengurus CU baru maupun lama. Tidak hanya kalangan CU, pelajar dan mahasiswa sering mengadakan praktik dan membuat tugas akhir kuliah di tempat ini.
Sejak berdiri pada 12 Mei 1985 hingga tahun 2000, perkembangan CUKB sebenarnya tidak terlalu menjanjikan. Namun demikian, para pengelolanya tidak putus asa. Peristiwa yang sangat memukul dan tidak pernah dilupakan adalah peristiwa kebakaran yang menghabiskan kantor dan dokumen CUKB pada tahun 1994. Para pengurus CUKB tidak putus asa. Segalanya boleh terbakar habis, namun semangat tidak boleh habis. Para pengurus melakukan pendataan ulang dengan mendatangi anggota ke rumah. Hasilnya, 90 persen aset masih bisa diselamatkan. Bagi CUKB, segalanya bisa saja hilang kecuali semangat.
Baru pada tahun 2000, mulai tampak perkembangan yang signifikan. Berkat semangat dan kesabaran para aktivis, kini CUKB yang diketuai oleh Dra. Sesilia Seli M.Pd per Mei 2011 telah memiliki aset sebesar Rp 220,1 Milyar dengan jumlah anggota 31.138 orang.
CUKB berkonsentrasi pada pendidikan sebagai kekuatan utama. "Perhatian utama kita adalah pengembangan sumber daya manusia yang dirancang untuk anggota, manajemen, pengurus, dan pengawas. Pengembangan SDM ini harus termuat dalam business plan yang dibuat setiap tahun sebagai penjabaran dari strategic plan yang dibuat setiap tiga tahun, "demikian menurut Sesilia Seli.
Menurutnya, pengembangan SDM dilakukan untuk membentuk sikap dan mental anggota CU yang militan. Pelatihan yang dibuat untuk mencapai tujuan tersebut, di antaranya adalah pelatihan kepemimpinan dan etos kerja dengan menghadirkan orang yang berkompeten, misalnya bapak etos kerja Yansen Sinamo. Selain itu, CUKB juga mengikuti pelatihan yang diselenggarakan oleh Inkopdit seperti pelatihan CUDCC dan CUCCC.
"Kami bisa survive, karena melaksanakan pendidikan secara konsisten baik intern maupun ekstern. Biaya pendidikan tinggi, sebesar 30 persen, diambil dari sisa hasil usaha bersih," jelasnya.
Aspek-aspek yang menggerakkan roda CU, lanjut Seli, diupayakan menuju tiga sehat koperasi, yaitu sehat organisasi, sehat usaha, dan sehat administrasi. Perkembangan yang terus meningkat, membuat manajemen CUKB melakukan berbagai terobosan baru dalam pemberdayaan ekonomi rakyat. Anggota CUKB tersebar di lima kabupaten dan kota di Kalimantan Barat, dengan memiliki 25 kantor pelayanan didukung oleh seorang penasihat, tujuh pengurus, lima pengawas dan 119 staf.
Pada 1999, CUKB mendapat Sertifikat Klasifikasi Kelas B dari Departemen Koperasi dan Pembinaan Pengusaha Kecil dari Walikota Pontianak. Pada 2005, CUKB meraih penghargaan sebagai koperasi berprestasi tingkat kota Pontianak. Hasil ini merupakan bukti bahwa CUKB mampu memberdayakan masyarakat secara profesional
Sumber: Jejak, Suplemen Majalah Hidup No.33 (Agustus 2011)

Isi Komentar :






Pengunjung hari ini
Total pengunjung
Pengunjung Online